Apa kabar, Jakarta?
Oh, aku teringat lagi denganmu, Jakarta. Sebuah kenangan cerah menyapaku. Menadahkan tangannya, mengajakku untuk menggenggamnya, dan membawaku kembali kepadamu. Ternyata kenangan hanya bisa tinggal didalam otak. Bukanlah didalam kotak lalu dikubur hingga dalam.
Dan kini aku kembali hanya untukmu, Jakarta. Kota yang menyimpan segala rasaku. Kota yang menyimpan kenangan rasa kurma. Kota dimana pertama kalinya aku meneguk sendiri kopi hitam hidupku. Kota dimana aku dipertemukan dengan sebuah bola salju yang tak kunjung cair meski dibawah terik matahari.
Aku kembali, mundur. Karena satu alasan. Karena satu tujuan. Karena satu cerita. Karena satu kenangan. Karena satu janji. Dan bola salju yang disimpan oleh Jakarta menjadi jawaban semua hal itu. Aku kembali untuknya.
Setelah sekian tahun lamanya, kini kugenggam kembali bola salju tersebut. Tidak ada yang berubah darinya. Dia, tetaplah dia bola salju yang selalu kunanti. Wujudnya tidak berbeda. Suhunya pun tetap sama. Oh, iya, ada satu hal yang berbeda. Kini bola salju tersebut akan selalu ada dalam genggamanku tanpa terbentur jarak dan waktu
-saw-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar